NABI MUHAMMAD DALAM ALKITAB

Kalky Avtar

New Delhi, India. Seorang profesor bahasa dari Alahabad University India dalam salah satu buku terakhirnya berjudul “Kalky Avtar” (Petunjuk Yang Agung) yang baru diterbitkan memuat sebuah pernyataan yang sangat mengagetkan kalangan intelektual Hindu.
Sang profesor secara terbuka dan dengan alasan-alasan ilmiah, mengajak para penganut Hindu untuk segera memeluk agama Islam dan sekaligus mengimani risalah yang dibawa oleh Muhammad Rasulullah saaw, karena menurutnya, sebenarnya Muhammad Rasulullah saaw adalah sosok yang dinanti-nantikan sebagai sosok pembaharu spiritual.
Prof. Waid Barkash (penulis buku tersebut) yang masih berstatus pendeta besar kaum Brahmana mengatakan bahwa ia telah menyerahkan hasil kajiannya kepada delapan pendeta besar kaum Hindu dan mereka semuanya menyetujui kesimpulan dan ajakan yang telah dinyatakan dalam buku. Semua kriteria yang disebutkan dalam kitab suci kaum Hindu (Wedha) tentang ciri-ciri Kalky Avtar (Kalki Awtar) sama persis dengan ciri-ciri yang dimiliki oleh Muhammad Rasulullah saaw.

Dalam ajaran Hindu disebutkan mengenai ciri Kalky Avtar, diantaranya bahw dia akan dilahirkan di jazirah, bapaknya bernama Syanuyihkat dan ibunya bernama Sumaneb. Dalam bahasa Sansekerta, kata Syanuyihkat adalah paduan dua kata yaitu Syanu artinya Allah, sedangkan Yahkat artinya anak laki-laki atau hamba yang dalam bahasa Arab disebut Abdun. Dengan demikian, kata “Syanuyihkat” berarti “Abdullah”. Sedangkan kata “Sumaneb” sepadan dengan “Aminah” dalam bahasa Arab, wanita yang terpelihara/terpercaya. Semua orang tahu bahwa ayahanda Rasulullah bernama Abdullah dan ibundanya bernama Aminah.
Dalam kitab Wedha juga disebutkan bahwa Tuhan akan mengirim utusan-Nya ke dalam sebuah gua untuk mengajarkan Kalky Avtar. Cerita ini sangat sesuai dengan kisah turunnya wahyu pertama kali kepada Rasulullah, dimana Allah telah mengutus Jibril ke gua Hiro untuk mengajarkan Rasulullah dalam mengucapkan wahyu pertama berupa 5 ayat pertama dari surat Al ‘Alaq.

Bukti lain yang dikemukakan oleh Prof. Barkash ialah kitab Wedha juga menceritakan bahwa Tuhan akan memberikan Kalky Avtar seekor kuda yang larinya sangat cepat yang membawa Kalky Avtar mengelilingi tujuh lapis langit. Ini merupakan isyarat langsung mengenai Isra` Mi’raj dimana Rasulullah mengendarai Buroq.
Dikutip dari bulletin Aktualita Dunia Islam.no. 58/II Pekan III/Februari 1998

 

TELAH DATANG ROH KEBENARAN

Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”. (QS. Ash-Shaff: 6)

Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. (Yohanes 16:13)
Jikalau Penghibur (Parakletos) itu datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang aku. (Yohanes 15:26)
Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu. (Yohanes 16:7)

Yesus telah menubuatkan tentang datangnya Roh Kebenaran atau Penghibur (Parakletos). ‘Roh’ bisa berarti malaikat, bisa berarti setan (yang biasa disebut roh jahat), bisa berarti nabi. Jika yang dimaksud dengan roh di sini adalah roh kudus, maka hal itu tidaklah mungkin. Karena pada Yohanes 16:7 di atas dijelaskan bahwa Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa itu baru akan datang setelah Yesus pergi, sedangkan roh kudus telah datang dan menemani Yesus dalam da’wahnya. Yesus mengatakan ‘pergi’ bukan mati. Karena sesungguhnya Yesus diangkat ke langit bersama 4 malaikat. Kemudian Allah mengubah seseorang menjadi mirip dengan Yesus dalam hal rupa dan suara. Jadi bukan Yesus yang mati di tiang salib.
Maka jelaslah bahwa ‘roh’ di sini berarti nabi. Siapakah nabi yang dimaksud? Tentu Nabi tersebut mempunyai ciri-ciri yang telah diceritakan oleh Yesus dan para Nabi sebelumnya. Dalam Yohanes 16:13 dikatakan bahwa Nabi yang akan datang itu adalah Nabi Kebenaran yang membawa kebenaran dan memimpin manusia kepada kebenaran. Nabi itu adalah Nabi Muhammad saaw.

Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (QS. Al-Isra`: 81)

Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikitpun) karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa`: 170)

Dalam Yohanes 15:26 dikatakan bahwa Roh itu adalah ‘Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa’. Dalam Al-Qur`an istilah ini menjadi ‘cahaya dari Allah’.
Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya (roh kebenaran yang keluar) dari Allah, dan kitab yang menerangkan. (QS. Al-Maidah: 15)

Dalam Yohanes 15:26 dikatakan bahwa Nabi itu adalah seorang ‘Penghibur’ (Parakletos), pembawa berita gembira, pembawa berita penghiburan. Dan Penghibur itu akan bersaksi tentang Nabi Isa.
Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari`at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan: “Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan”. Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira (parakletos) dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Maidah: 19)

Diriwayatkan daripada Ubadah bin As-Somit r.a katanya: Rasulullah s.a.w telah bersabda: Sesiapa yang mengucap Dua Kalimah Syahadat, yaitu: “Aku bersaksi bahwa tidak ada yang pantas disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah,” dan bersaksi bahwa Nabi Isa adalah hamba Allah, anak hambanya dan kalimah Allah, yaitu Nabi Isa as dijadikan oleh Allah tidak berbapa hanya dengan kalimah KUN yang berarti jadilah engkau maka jadilah dia, yang disampaikan kepada Mariam dan juga tiupan roh daripadaNya, serta bersaksi bahwa balasan Syurga adalah pasti begitu juga balasan Neraka adalah pasti; niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam Syurga melalui salah satu dari lapan pintu Syurga sebagaimana yang dikehendakinya. (HR. Bukhori, Muslim, dan Ahmad)
Dalam Yohanes 16:13 dikatakan bahwa Roh itu tidak akan berkata-kata dari dirinya sendiri, melainkan apa yang didengarnya (diwahyukan kepadanya) dari Allah. Dalam Al-Qur`an, Allah menyifatkan Nabi Muhammad saw dengan demikian:

Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. An-Najm: 4)
Dalam Yohanes 16:13 dikatakan bahwa Roh itu akan memberitakan hal-hal yang akan datang. Nabi Muhammad saaw di dalam banyak hadits telah menubuatkan tentang kejadian yang akan datang, baik kejadian yang kemudian disaksikan para shahabat, maupun kejadian yang baru akan disaksikan oleh generasi setelahnya, bahkan mengenai tanda-tanda akhir zaman, tentang hari berbangkit, tentang hari pengadilan, dan sebagainya.

Maka jelaslah bahwa Roh Kebenaran atau penghibur yang dijanjikan itu tidak lain adalah Nabi Muhammad Rasulullah saw.
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS. Ali ‘Imran: 64)

 

TUAN MANUSIA

Mazmur Daud. Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: “Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu.” [Mazmur 110:1]
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah ra katanya: Pada suatu hari Rasulullah saw dibawakan dengan seketul daging, lalu diberikan daging paha tersebut kepada baginda yang sememangnya baginda sangat sukai. Baginda menggigitnya sekali lalu bersabda: Aku adalah pemimpin manusia pada Hari Kiamat. Tahukah kamu apa sebabnya? Pada Hari Kiamat, Allah mengumpulkan orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian pada satu kawasan yang luas. Ada penyeru yang memperdengarkan kepada mereka dan ada 

penglihatan yang mengawasi setiap orang dari mereka. Jarak matahari begitu dekat sehingga manusia pada ketika itu berada pada kemuncak kesusahan dan kepayahan yang amat dahsyat, mereka tidak berkuasa untuk menanggung keadaan tersebut. Sebahagian daripada mereka berkata kepada sebahagian yang lain: Tidakkah kamu tahu apa yang sedang kamu alami. Tidakkah kamu rasai kepayahan yang telah menimpa kamu? Tidakkah kamu mempunyai pandangan sesiapa yang dapat memintakan syafaat kepada Tuhan kamu?
Maka setengah dari mereka mengusulkan agar menemui Nabi Adam as. Maka mereka menemui Nabi Adam as lalu berkata: Wahai Adam! Engkau adalah bapa manusia. Allah telah menciptakanmu dengan tanganNya dan meniupkan roh ke dalam dirimu. Dia juga memerintahkan para Malaikat supaya sujud kepadamu. Mintakankah syafaat untuk kami kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang kami alami? Tidakkah engkau melihat kepayahan yang menimpa kami? Nabi Adam as berkata: Sesungguhnya pada hari ini Tuhanku sangat marah, kemarahan yang belum pernah terjadi sebelum ini dan tidak akan terjadi selepas ini. Dulu, aku dicegah mendekati sebatang pohon, tetapi aku mendurhakaiNya. Diriku, diriku. Pergilah kepada orang lain. Pergilah kepada Nabi Nuh as.

Maka mereka pun pergi menemui Nabi Nuh as lalu berkata: Wahai Nuh! Engkau adalah Rasul pertama di atas bumi dan Allah menyebutmu hamba yang banyak bersyukur. Mintakanlah syafaat untuk kami kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau melihat apa yang telah menimpa kami? Beliau berkata kepada mereka: Pada hari ini, Tuhanku sangat marah, kemarahan yang belum pernah terjadi sebelum ini dan tidak akan terjadi selepas ini. Dulu aku berdoa dengan doa yang mencelakakan kaumku. Diriku, diriku. Pergilah kamu kepada Nabi Ibrahim as.

Mereka pun pergi menemui Nabi Ibrahim as lalu berkata: Engkau adalah Nabi dan kekasih Allah di antara penduduk bumi. Mintakanlah syafaat untuk kami kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau melihat apa yang telah menimpa kami? Nabi Ibrahim as berkata: Sesungguhnya pada hari ini Tuhanku sangat marah, kemarahan yang belum pernah terjadi sebelum ini dan tidak akan terjadi selepas ini. Beliau menyebut pembohongan-pembohongannya. Diriku, diriku. Pergilah kamu kepada orang lain. Pergilah kamu kepada Nabi Musa as.

Maka mereka pun pergi menemui Nabi Musa as lalu berkata: Wahai Musa! Engkau adalah Utusan Allah. Allah telah mengutamakanmu dengan risalahNya dan KalamNya, melebihi manusia lain. Mintakanlah untuk kami syafaat kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau melihat apa yang telah menimpa kami? Nabi Musa as berkata: Sesungguhnya pada hari ini Tuhanku sangat marah, kemarahan yang belum pernah terjadi dan tidak akan terjadi selepas ini. Dulu aku membunuh orang padahal aku tidak diperintahkan untuk membunuhnya. Diriku, diriku. Pergilah kamu kepada Nabi Isa as.

Maka mereka pun pergi menemui Nabi Isa as lalu berkata: Wahai Isa! Engkau adalah utusan Allah. Engkau telah berbicara kepada manusia semasa engkau masih dalam buaian. Engkau adalah kalimahNya yang Dia sampaikan kepada Mariam dan roh dariNya. Mintakanlah untuk kami syafaat kepada Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau melihat apa yang telah menimpa kami? Nabi Isa as berkata: Sesungguhnya pada hari ini Tuhanku sangat marah, kemarahan yang tidak pernah terjadi sebelum ini dan tidak akan terjadi selepas ini. Aku bukanlah orang yang layak dimintai pertolongan. Diriku, diriku. Pergilah kepada orang lain. Pergilah kepada Nabi Muhammad saw.

Maka mereka telah mendatangiku dan berkata: Wahai Muhammad! Engkau adalah Utusan Allah dan penutup para nabi. Allah telah mengampunimu, dosa yang terdahulu dan yang terkemudian. Syafaatilah kami di hadapan Tuhanmu. Tidakkah engkau melihat apa yang sedang kami alami? Tidakkah engkau melihat apa yang telah menimpa kami?
Akupun berangkat. Sesampainya di bawah Arasy, aku merebahkan diri bersujud kepada Tuhanku. Kemudian Allah membukakan kepadaku dan memberiku ilham, berupa puji-pujian bagiNya dan sanjungan kepadaNya, sesuatu yang tidak pernah dibukakan kepada seorangpun sebelumku. Kemudian difirmankan: Wahai Muhammad angkatlah kepalamu. Mintalah, engkau pasti diberi. Berikanlah syafaat, syafaatmu diterima. Aku mengangkat kepala sambil berkata: Wahai Tuhanku. Umatku, umatku. Maka Allah berfirman: Wahai Muhammad. Masukkanlah umat-umatmu yang tidak harus dihisab ke dalam Syurga melalui pintu sebelah kanan di antara pintu-pintu Syurga. Mereka juga boleh masuk bersama orang lain yaitu ahli Syurga yang bukan termasuk golongan di atas dari pintu-pintu lain. Demi Zat yang menguasai jiwa Muhammad Sesungguhnya jarak antara dua pintu Syurga itu, sama dengan jarak antara Mekah dan Hajar sebuah Kota di Bahrain atau sama dengan jarak antara Mekah dan Busyra dekat Damsyik. [HR. Bukhori, Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad bin Hanbal]
Lihatlah, ketika para nabi berkata, “Selamatkan diriku, selamatkan diriku!”, Muhammad Rasulullah SAW tetap ingat kepada ummatnya dan berkata, “Selamatkan ummatku, selamatkan ummatku!”. Dan lihatlah bahwa Muhammad Rasulullah adalah Tuan/Lord/Sayid. Dia itulah Penghibur/Comforter. Dia itulah Jurusyafaat. Dia itulah Parakletos. Dia itulah Sang Penolong yang akan menolong manusia di hari berbangkit. Di tangan Nabi Muhammad itulah diserahkan Kerajaan Tuhan.
Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu (wahai orang Israel) dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu (yaitu bangsa Arab yang dari bangsa itu lahir Nabi Muhammad SAAW). [Matius 21:43]
Katanya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat (tapi belum datang). Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” [Markus 1:15]
Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (yang dijanjikan) itu (yaitu Muhammad) kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikitpun) karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. [QS. An-Nisa: 170]

Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. [QS. Al-Maidah: 15]
Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari`at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan: “Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan”. Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. [QS. Al-Maidah: 19]

Kepada Muhammad Rasulullah SAAW telah diberikan hikmah, pengertian dan nasihat yang baik serta keperkasaan, juga ma’rifah (pengenalan) kepada Allah serta ketaqwaan kepada Allah. Dialah yang dipilih oleh Allah, yang Allah ridha/berkenan/puas kepadanya. Dia diutus untuk menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang sengsara dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberikan pembebasan kepada orang-orang yang ditawan oleh dunia. Dunia merupakan penjara bagi orang-orang beriman dan nerupakan surga bagi orang-orang kafir. Orang-orang beriman itulah anak-anak Allah yang akan mewarisi Kerajaan Allah.

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. [Ali ‘Imran: 164]

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung. [QS. Al-Mujadilah: 22]

 

MUHAMMAD Shallallahu Alaihi wa Sallam:

Nabi Tuhan yang benar berdasarkan Injil

(a) ” … setiap roh (maksudnya setiap Nabi) yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah.” (Injil – 1 Yohanes 4: 2).
Bandingkan dengan kitab suci Al-Qur’an surat Ali ‘Im-ran (3) ayat 45 dan banyak referensi Qur’an lainnya dimana Yesus diarahkan sebagai Kristus. Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Alihi Sallam (saaw) mengakui bahwa Isa Al-Masih (Yesus Kristus) adalah manusia yang diutus Allah kepada bani Israel. Maka jelaslah bahwa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Alihi Sallam adalah seorang nabi.
Nama Muhammad Disebutkan di Dalam Injil:

(b) “Kata-katanya manis semata-mata, segala sesuatu padanya (Muhammad) menarik. Demikianlah kekasihku, demikianlah temanku, hai putra-putri Yerusalem.” (Injil -Kidung Agung 5: 16).

Dalam naskah Ibrani asli, kata “Muhummedim” diterjemahkan menjadi “segala sesuatu menarik” yang pada dasarnya adalah kata Muhummed dengan tambahan “im”. Dalam bahasa Ibrani “im” digunakan untuk menyatakan jamak.
Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam Adalah Seorang “Penolong” Seperti Yesus Alaihis-salam.
(c) “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan membe-rikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.” (Injil – Yohanes 14: 16).
Yesus Alaihis-salam adalah penolong pertama, dan yang lain tentunya seperti dia, sama seperti Yesus, seorang manusia dan bukan Tuhan.

 

SEPERTI MUSA

Seorang Nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka seperti engkau ini. [Ulangan 18:18]
Taurat yang merupakan bagian dari Alkitab yang dipegang umat Kristiani saat ini menjelaskan bahwa Tuhan telah mengabarkan bahwa kelak Dia akan membangkitkan (yub`ats) seorang Nabi yang seperti Musa. Siapakah Nabi yang seperti Musa itu. Setelah melihat karakter Musa, kemudian kita cocokkan dengan Nabi-Nabi setelah Musa, maka tidak ada yang lebih mirip dengan Musa, kecuali Muhammad Rasulullah shollallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam. Apa saja persamaan antara Nabi Musa ‘alayhis salam dengan Muhammad Rasulullah shollallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam itu? Antara lain adalah:

1. Ayah dan Ibu
Musa mempunyai seorang ayah dan seorang ibu. Muhammad Rasulullah saaw juga mempunyai seorang ayah dan seorang ibu. Tetapi Yesus hanya mempunyai seorang ibu. Karena itu Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad Rasulullah saaw itu seperti Musa as.
2. Kelahiran Ajaib
Musa as dan Muhammad Rasulullah saaw lahir secara normal dan alamiah, yaitu melalui percampuran fisik antara seorang pria dan wanita, tetapi Yesus diciptakan dengan sebuah keajaiban istimewa. Dalam Kitab Matius 1: 18 “… sebelum mereka (Yusuf dan Maria) hidup sebagai suami istri, ternyata Maria mengandung dari Roh Kudus …” Dan, Lukas mengatakan bahwa ketika berita gembira atas kelahiran anak suci tersebut diberitahukan kepada Maria, dia memberi alasan: “… bagaimana hal itu mungkin terjadi, sedangkan aku belum bersuami? Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Maha Tinnggi akan menaungi engkau….” (Lukas l: 34-35).

Kitab Suci Al-Qur’an menegaskan kelahiran Yesus yang ajaib tersebut dalam istilah yang mulia dan luhur dalam menjawab pertanyaan yang logis dari Maria: “Ya Rabbku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun?”Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah” lalu jadilah dia.”(QS. Ali Imran: 47). Bukanlah menjadi keharusan bagi Allah untuk menanam benih pada seseorang atau binatang. Jika Dia menghendakinya itu pasti akan terjadi. Ini adalah konsep umat Islam pada kelahiran Yesus. Ketika Ahmed Deedat membandingkan versi Al-Qur’an dan Injil tentang kelahiran Yesus kepada pendeta Dunkers, pemimpin masyarakat penginjil, dan ketika Ahmed Deedat bertanya, “Versi mana yang lebih Anda sukai untuk diberikan kepada anak perempuan Anda, Al-Qur’an atau Injil?” Pria tersebut menundukkan kepalanya dan menjawab, “Versi Al-Qur’an.”.

3. Menikah
Musa dan Muhammad Rasulullah saaw menikah dan mempunyai anak, tetapi Yesus tetap menjadi seorang bujangan selama hidupnya. Karena itu Yesus tidak seperti Musa , tetapi Muhammad Rasulullah saaw seperti Musa as.

4.Yesus Ditolak Oleh Kaumnya
Musa as dan Muhammad Rasulullah saaw diterima sebagai nabi oleh kaumnya dalam kehidupan mereka. Memang benar bahwa orang-orang Yahudi terus menerus memberi kesulitan kepada Musa, tetapi sebagai bangsa secara keseluruhan, mereka mengetahui bahwa Musa adalah utusan Allah yang dikirim untuk mereka. Orang-orang Arab juga membuat kehidupan Muhammad Rasulullah saaw menjadi menderita. Beliau sangat menderita akibat ulah mereka. Setelah 13 tahun berda’wah di Makkah, beliau harus pindah dari kota kelahirannya.
Tetapi sebelum kematiannya, bangsa Arab secara keseluruhan telah menerimanya sebagai utusan Allah. Tetapi berdasarkan Injil – “Dia (Yesus) datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerimanya.” (Yohanes 1: 11). Dan bahkan sampai hari ini, setelah 2000 tahun, kaumnya, orang-orang Yahudi, secara keseluruhan telah menolaknya. Karena itu Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad seperti Musa.

5. Kerajaan “Dunia Lain”
Musa as dan Muhammad Rasulullah saaw adalah nabi dan juga raja (khalifah). Nabi berarti seorang manusia yang menerima wahyu untuk menunjuki manusia dan menyampaikan petunjuk ini kepada ciptaan Allah seperti yang diterimanya tanpa ada penambahan atau pengurangan. Raja adalah seorang manusia yang mempunyai kekuasaan untuk menerapkan suatu hukum terhadap kaumnya. Tidaklah penting apakah orang tersebut mengenakan mahkota atau tidak, atau apakah dia mengenakan pakaian raja; Jika seseorang mempunyai hak untuk memberikan hukuman mati -Dia adalah raja-. Musa memiliki kekuasaan tersebut. Ingatkah Anda orang Israel yang pada hari Sabbath ditemukan sedang mengumpulkan kayu bakar, dan Musa menghukum mati orang tersebut dengan dilontari batu? (Bilangan 15: 36). Terdapat tindakan kejahatan lainnya yang disebutkan dalam Injil yang karenanya Musa memberikan hukuman mati pada orang-orang Yahudi tersebut. Begitujuga Muhammad Rasulullah saaw, beliau memiliki kekuasaan atas kaumnya. Pada Injil terdapat beberapa contoh orang-orang yang hanya diberi kenabian, tetapi tidak dalam posisi untuk menerapkan petunjuk mereka. Beberapa orang suci Tuhan yang tidak berdaya menghadapi penolakan yang keras atas pesan yang disampaikan mereka ini adalah nabi Lot, Jonah, Daniel, Ezra dan Yohanes Pembaptis. Mereka hanya dapat menyampaikan pesan, tetapi tidak dapat memaksakan hukuman. Sayangnya nabi suci Yesus juga termasuk kategori ini. Para penginjil Kristen dengan jelas membenarkan hal ini: Ketika Yesus diseret kedepan Gubernur Roma (Pontius Pilatus) dan dituduh sebagai pendusta, Yesus membuat sebuah pernyataan meyakinkan dalam pembelaannya untuk menyangkal tuduhan yang salah:
“Jawab Yesus, ‘Kerajaanku bukan dari dunia ini; Jika kerajaanku dari dunia ini, pasti hamba-hambaku telah melawan, supaya aku jangan diserahkan kepada orang orang Yahudi, akan tetapi kerajaanku bukan dari sini. ” (Yohanes 18: 36). Hal ini meyakinkan Pilatus (seorang penyembah berhala) dengan pemikiran bahwa Yesus tidak sepenuhnya berkuasa atas kemampuan ruhaninya, dia tidak menganggapnya orang yang membahayakan pemerintahannya. Yesus hanya menuntut sebuah kerajaan spiritual, dengan kata lain dia hanya menyatakan sebagai seorang nabi. Karena itu Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad seperti Musa.

6. Tak Ada Hukum Baru
“Musa dan Muhammad Rasulullah saaw membawa hukum dan aturan baru untuk kaumnya. Musa tidak hanya memberi 10 perintah Allah kepada orang-orang Israel, tetapi hukum-hukum peribadatan yang sangat luas sebagai petunjuk kaumnya. Muhammad Rasulullah saaw datang kepada sebuah kaum yang sangat bodoh dan biadab. Mereka menikahi ibu tirinya, menguburkan anak perempuannya hidup-hidup, mabuk-mabukan, berzina, menyembah berhala dan berjudi dari hari ke hari. Gibbon melukiskan orang-orang Arab sebelum Islam dalam Decline and Fall of the Roman Empire, “Kebrutalan manusia, hampir tanpa perasaan, sulit dibedakan keburukannya dari sisa-sisa penciptaan hewan.” Sukar mendapatkan sesuatu yang membedakan antara manusia dan hewan pada saat itu. Mereka adalah hewan dalam wujud manusia.

Dari kebiadaban yang hina ini, Muhammad Rasulullah saaw mengangkat mereka, dalam kata-kata Thomas Carlyle, “Menjadi pembawa obor penerangan dan pelajaran. Bagi bangsa Arab ini adalah kelahiran dari kegelapan menjadi cahaya (minazh-zhulumati ilan-nur). Untuk pertama kalinya Arab menjadi hidup karenanya. Masyarakat penggembala yang miskin, mengembara tidak dikenal di padang pasir sejak penciptaan dunia. Perhatikan, tidak dikenal menjadi terkemuka di dunia, yang kecil telah tumbuh menjadi dunia besar. Dalam satu abad kemudian Granada telah berada di tangan bangsa Arab dan Delhi di tangannya yang lain. Pandangan sekilas dalam keberanian, kemegahan, dan cahaya kecerdasan, Arab menyinari bagian yang besar dari dunia… ” Kenyataannya adalah Muhammad Rasulullah saaw memberikan kaumnya sebuah hukum dan peraturan yang belum pernah dimiliki mereka sebelumnya.

Mengenai Yesus, ketika orang-orang Yahudi merasa curiga terhadapnya bahwa ia mungkin seorang penipu dengan tujuan menyesatkan ajaran mereka, Yesus mengambil penderitaan untuk meyakinkan mereka bahwa dia tidak datang dengan agama baru. Tidak ada hukum baru dan tidak ada peraturan baru. Saya kutip kata-katanya: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau meniadakan kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu, ‘Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi’. “(Matius 5: 17-18).

Dengan kata lain, dia tidak datang dengan hukum atau aturan baru. Dia datang hanya untuk menggenapi hukum lama. Hal inilah yang diberikannya kepada orang-orang Yahudi untuk dimengerti. Kecuali jika ia sedang mencoba menggertak orang-orang Yahudi, agar menerimanya sebagai utusan Allah dan dengan dalih mencoba memasukkan agama baru kepada mereka. Tidak! Utusan Tuhan ini tidak akan pernah berusaha dengan curang untuk menumbangkan agama Tuhan. Dia dengan sendirinya mematuhi hukum. Dia mematuhi perintah-perintah Musa, dan menghormati hari Sabbath. Tidak ada kesempatan seorang Yahudi menunjukkan jari padanya dan berkata, “Mengapa kamu tidak puasa” atau “Mengapa kamu tidak mencuci tanganmu sebelum membelah roti”. Yesus menuduh mereka selalu mengatakan bertentangan dengan muridnya, tetapi tidak pernah bertentangan dengannya. Hal ini karena sebagai seorang Yahudi yang baik, ia menghormati hukum-hukum nabi yang mendahuluinya. Singkatnya, ia tidak menciptakan agama baru dan tidak membawa hukum baru seperti Musa dan Muhammad Rasulullah saaw. Karena itu Yesus tidak seperti Musa , tetapi Muhammad Rasulullah saaw seperti Musa.

7. Bagaimana Mereka Pergi
Musa dan Muhammad meninggal dalam kematian yang wajar, tetapi menurut agama Kristen, Yesus dengan kejam dibunuh di tiang salib. Karena itu Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad seperti Musa.
8. Surga Sebagai Tempat Kediaman
Musa dan Muhammad terbaring dikubur dalam bumi, tetapi menurut umat Kristian, Yesus beristirahat di surga. Karena itu Yesus tidak seperti Musa , tetapi Muhammad seperti Musa.

Sumber: Ahmed Deedat dalm bukunya “The Choice

 

FIRMAN DALAM MULUT

“… dan Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya…” [Ulangan 18:18]
Dalam ayat di atas dikatakan, “Aku aka menaruh firman-Ku dalam mulutnya,” Apakah artinya jika dikatakan, “Saya akan menaruh firman saya dalam mulut Anda?” Ketika saya meminta Anda untuk membuka Ulangan 18: 18 dan saya meminta Anda untuk membacanya, lalu Anda membacanya, apakah itu berarti saya telah menaruh firman saya dalam mulut Anda? Tidak.

Tetapi jika saya mengajari Anda sesuatu yang Anda tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, dan bila saya meminta Anda untuk mengulangi sesudah saya, apa yang saya ucapkan, maka saya sedang menaruh kata-kata saya ke dalam mulut Anda.
Dengan cara yang sama, ayat-ayat kitab suci Al-Qur’ an, firman yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa kepada Muhammad, diwahyukan.

Sejarah menyatakan bahwa Muhammad ketika itu berusia 40 tahun. Ia berada dalam sebuah gua kira-kira 3 mil ke utara dari kota Makkah. Hari itu adalah malam ke 17 bulan Ramadhan. Dalam gua, malaikat Jibril memerintahkannya dalam bahasa daerahnya:
“Iqra`!” “Baca!” atau ‘nyatakan!’ atau ‘bawakan!’ Muhammad ketakutan dan dalam keadaan kebingungan menjawab: “Saya tak dapat membaca!”
Malaikat memerintahkan untuk kedua kalinya dengan hasil yang sama. Pada yang ketiga kalinya malaikat melanjutkan:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketabuin,ya.” (QS. Al-’Alaq: 1-5).

Barulah Muhammad mengerti bahwa apa yang harus dilakukannya hanyalah mengulangi. Dan dia mengulangi kata-kata yang ditaruh dalam mulutnya. Ayat-ayat di atas adalah ayat-ayat pertama yang diwahyukan kepada Muhammad, yang sekarang merupakan permulaan surat ke 96 dari Al-Qur’an (Al-’Alaq).

Kesaksian Orang-orang yang Beriman
Segera setelah malaikat pergi, Muhammad berlari ke rumahnya. Dengan ketakutan dan berkeringat seluruh tubuhnya, beliau meminta istri tercintanya, Khadijah, untuk menyelimutinya. Beliau berbaring, dan istrinya memandanginya. Ketika telah tenang kembali, Muhammad menjelaskan kepada istrinya apa yang telah dilihat dan didengarnya. Khadijah meyakinkannya bahwa ia percaya kepada Muhammad dan bahwa Allah tidak akan membiarkan hal mengerikan terjadi padanya. Apakah ini semua adalah pengakuan seorang penipu? Apakah penipu mengaku bahwa ketika seorang malaikat mendatangi mereka dengan pesan dari Yang Maha Tinggi, mereka menjadi kuatir, ketakutan dan berkeringat seluruh tubuhnya, lari ke rumah menuju istrinya? Setiap kritikus dapat melihat bahwa reaksi dan pengakuannya ini adalah dari seorang yang jujur dan tulus, manusia kebenaran -Al Amin- yang jujur, yang tulus dan yang dapat dipercaya.

Selama 23 tahun berikut dalam hidup kenabiannya, kata-kata tersebut ‘ditaruh dalam mulutnya’ dan beliau mengucapkannya. Kata-kata tersebut memberi pengaruh yang tak terhapuskan dalam hati dan pikirannya; dan ketika jumlahnya bertambah, kata-kata suci tersebut dicatat oleh pengikutnya pada daun, kulit dan tulang belikat hewan, serta di dalam hati murid-murid yang tekun. Sebelum kematiannya, kata-kata ini disusun dalam urutan seperti yang dapat kita temukan saat ini dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Kata-kata wahyu tersebut benar-benar ditaruh di dalam mulutnya; tepat seperti dikatakan dalam ramalan, “Dan Aku akan menaruh Firman-Ku dalam mulutnya.” (Ulangan 18: 18)
Nabi yang Ummi

Pengalaman Muhammad di dalam gua Hira, dan reaksinya terhadap wahyu pertama benar-benar memenuhi ramalan Injil yang lain. Pada kitab Yesaya 29:12, kita baca: “Dan apabila kitab itu” (Al-kitab, Al-Qur’an – ‘pembacaan’, ‘pembawaan’) “diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca (Nabi yang ummi, Al Qur’an surat Al-A’raf ayat 158) dengan mengatakan, “Baiklah baca ini, Saya berdo’a untuk kamu” (Kalimat: “Saya berdo’a untuk kamu” tidak ada dalam naskah Yahudi, bandingkan dengan Katholik Roma “versi Douay” dan juga dengan “versi standar yang sudah direvisi”, Revised Standard Version) “Dan ia akan menjawab, ‘Aku tidak dapat membaca’.” “Aku tidak dapat membaca!” adalah terjemahan yang tepat dari kata-kata yang diucapkan 2 kali oleh Muhammad kepada Roh Kudus, Malaikat Jibril, ketika dia memerintahkan (“Baca!”).
Izinkan saya mengutip ayat tersebut secara lengkap tanpa terpotong seperti pada “versi King James” atau “versi yang telah disahkan” yang lebih terkenal:
“Dan, apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan, ‘Baiklah baca ini, saya berdo’a untuk kamu’, maka ia akan menjawab, ‘Aku tidak dapat membaca’.” (Yesaya 29: 12)
Yang perlu diperhatikan adalah belum ada Injil berbahasa Arab pada abad 6 Masehi, ketika Muhammad hidup dan berda’wah. Disamping itu beliau benar-benar tidak dapat membaca dan menulis. Tak ada seorang manusia pun yang pernah mengajarinya sebuah kata. Gurunya adalah Penciptanya :
“Dan, tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. ” (QS. An-Najm: 3-5)
Tanpa pengajaran dari seorang manusia pun, ia membuat malu orang-orang yang berpengetahuan.

Peringatan Penting
Perhatikan! Bagaimana ramalan tersebut cocok sekali dengan Muhammad. Kami tak perlu menjabarkan ramalan agar terpenuhi dalam diri Muhammad.
Tuhan menganggap bahwa pemberitaan tentang Muhammad dan mengikuti Muhammad adalah penting! Dia mengalami banyak kesulitan agar peringatannya diingat. Tuhan tahu bahwa akan ada orang-orang yang dengan kepandaian berbicara, dengan senang akan mengurangi kata-katanya, sehingga dia melanjutkan Ulangan 18:18 dengan peringatan yang menakutkan, “Dan, hal tersebut akan terjadi”. “Orang yang tidak mendengarkan segala Firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, daripadanya akan Kutuntut pertanggungjawaban.” (Pada Injil Katholik kata-kata terakhirnya adalah -”Aku akan menjadi pembalas dendam”- Aku akan membalas untuknya – Aku akan membalasnya!)
Apakah hal ini tidak menakutkan Anda? Tuhan Yang Maha Kuasa sedang, mengancam pembalasan dendam! Nafas kita terengah-engah jika beberapa penjahat mengancam, tidakkah Anda takut pada peringatan Tuhan?
(Ahmed Deedat dalam The Choice)

 

DENGAN NAMAKU
 

… firman-Ku yang akan diucapkan Nabi itu demi Nama-Ku… [Ulangan 18:19]Sungguh ajaib dan mena’jubkan! Pada Ulangan 18:19 kita mendapatkan pemenuhan ramalan pada diri Muhammad! Perhatikan kata-kata, “… firman-Ku yang akan diucapkan Nabi itu dengan nama-Ku (in My Name),” Atas nama siapa Muhammad Rasulullah saaw berbicara? Bukalah Kitab Suci Al-Qur-’an pada surat pertama, yaitu Al-Fatihah. Maka akan Anda dapati, “Bismillahir-Rahmair-Rahim,” yang berarti, “Dengan Nama Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang.” Dan dianjurkan kepada ummat Islam agar mereka memulai pembacaa ayat-ayat suci Al-Qur`an dengan membaca, “Bismillahir-Rahmanir-Rahim.” Bahkan ayat yang pertama kali turun adalah, “Bacalah dengan Nama Tuhanmu Yang telah Menciptakan.”


Apa yang diinginkan ramalan tersebut? ‘… yang akan diucapkan nabi itu dengan nama-Ku…’ dan atas nama siapa Muhammad Rasulullah saaw berbicara? ‘Dengan Nama Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang.’ Isi ramalan tersebut terpenuhi dalam diri Muhammad Rasulullah saaw. Setiap surat dalam Al-Qur’an kecuali surat ke 9 (At-Taubah)* dimulai dengan formula: ‘Dengan meyebut Nama Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang.’ Umat Islam memulai setiap kegiatan yang sah menurut hukum dengan formula suci ini. Tetapi umat Kristen memulai: “Dengan nama Bapak, Anak dan Roh Kudus.”
Memperhatikan Ulangan pasal18; akan jelaslah bahwa ramalan tersebut ditujukan kepada Muhammad Rasulullah saaw, dan bukannya Yesus.
(Ahmed Deedat dalam The Choice)
* Surat At-Taubah (surat ke-9) sangat berkaitan erat dengan surat Al-Anfal (surat ke-8) seakan-akan At-Taubah dan Al-Anfal itu seperti satu surat. Untuk mengingatkan hal itu, maka lafazh ‘Bismillahir-Rahmanir-Rahim’ tidak diletakkan sebagai pembatas antara surat Al-Anfal dengan surat At-Taubah.

 

MUHAMMAD AL-MUSTHOFA 

Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa. [Matius 12:18]

Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia (Yesus). Kata Petrus kepada Yesus: “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” [Matius 17: 3-5]
Al-Musthofa berarti yang terpilih. Muhammad adalah Hamba Allah yang Dia pilih sebagai Nabi yang akan menyebarkan hukum dan ajaran Tuhan kepada seluruh bangsa. Tidak hanya kepada bangsanya sendiri, tetapi kepada seluruh bangsa. Sedangkan Yesus diutus hanya untuk menyebarkan ajaran Tuhan kepada bangsa Israel saja.
Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” [Matius 15:24]

Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” [Matius 10:5-6]
Maka jelaslah bahwa Matius 12:18 dan 17: 5 sedang menjelaskan tentang penglihatan Yesus, Musa, dan Elia terhadap Muhammad Rasulullah yang nampak sosoknya di atas awan putih terang tersebut. Kemudian Allah berfirman kepada Yesus, Musa, dan Elia, “Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa.” Hal ini akan lebih jelas lagi jika kita membuka Injil Barnabas pasal 42. Dan ayat-ayat ini juga menunjukkan bahwa Yesus itu bukanlah Allah, dan tidak ada Tuhan Tritunggal. Dalam ayat tersebut, jelas bukan Yesus yang berkata, “Inilah Anak yang Kukasihi.” Akan tetapi Allah itulah yang telah berfirman. Dan Yesus bukanlah Allah.
Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”. [QS. Ali Imran: 81]
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. [QS. Al-Anbiya`: 107]

Maka Yesus berkata, “Setiap orang yang bekerja, bekerja untuk suatu penyelesaian, dalam hal itulah ia menemukan kepuasan. Oleh sebab itu aku katakan kepadamu bahwa Allah, karena sesungguhnya Dia adalah Maha Sempurna, tiada mempunyai kebutuhan tentang kepuasan, mengingat Dia telah puas terhadap Diri-Nya. Dengan begitu kehendak untuk bekerja, Dia telah menciptakan sebelum semua benda dan roh dari Pesuruh-Nya, bagi Pesuruh itu Dia telah menetapkan untuk menciptakan keseluruhannya, agar para makhluk itu akan mendapat kegembiraan dan keselamatan dengan (petunjuk) Allah, dari mana Pesuruh-Nya akan menerima kesukaan kepada semua makhluk-Nya yang telah Dia angkat menjadi hamba-hamba-Nya. Dan hal ini terjadi demikian karena Dia telah berkehendak demikian.
Sesungguhnya aku katakan kepadamu, bahwa setiap nabi apabila datang dan telah lahir kepada suatu bangsa, hanya pertanda dari pada rahmat Allah. Dengan demikian dakwah-dakwah mereka tidak diluaskan, kecuali kepada bangsa yang mana mereka telah diutus. Tetapi Pesuruh Allah itu, ketika dia akan datang, Allah akan memberikan kepadanya seolah-olah terang dari Tangan-Nya, akhirnya bahwa dia akan membawa keselamatan dan rahmat kepada semua bangsa di dunia ini yang mau menerima ajaran-ajarannya. Dia akan datang dengan kekuatan mengalahkan penyelewengan akidah Allah, dan akan menghancurkan penyembahan berhala, akhirnya bahwa dia akan menjadikan Iblis tercengang, karena demikian janji Allah kepada Abraham, berkata, ‘Ingatlah dalam benihmu Aku akan memberi rahmat semua bangsa di bumi ini, dan sebagaimana kamu telah memecahkan berhala berkeping-keping, o Abraham, begitu juga benihmu akan berbuat.’” [Injil Barnabas pasal 43]

Bukankah Muhammad Al-Musthofa telah menumbangkan berhala-berhala? Bukankah kelahiran beliau telah ditandai dengan padamnya api biara Majusi? Dan para pengikutnya telah menaklukkan Kekaisaran Roma? Akan tetapi lihatlah orang-orang Kristen yang mereka menyembah Yesus sebagai berhala mereka. Inikah yang disebut Jalan Lurus? Mereka membuat patung Yesus, patung Bunda Maria, dan patung-patung lainnya serta gambar-gambar mereka yang hanyalah makhluq yang berjalan di muka bumi. Inikah Jalan Lurus?
Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. [Keluaran 20: 4]

Narasumber
http://hotarticle.hadithuna.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar