Pantaskah Kami Ya Rosulullah???

Bismillahirrahmannirrahim
Assalamualaykum Warahmatullahi Wabarakatuh
Assalamualayka ya Rasulullah

Bismillahirrahmannirrahim

Ya Nabi salam a'laika
Ya rosul salam a'laika

Dengan tangan kotor berlumur
dosa Ya Rasul, kata kata  ini
kutulis dengan tinta iman yang
kini semakin mengering, dan di
atas kertas hati yang semakin
buram dengan coretan-coretan
kemunafikan.

Untukmu di sana wahai makhluk
suci yang
sangat merindukan kami.
Shalawat dan salam atasmu
wahai pemimpin para Nabi.
Engkaulah sang pembawa risalah
yang telah menunaikan amanah
langit di bumi.

Duh..! Andai saja saat ini engkau
di sini.
Tentulah tak ada kaum yang
menghinakan kami.
Apalagi memecah belah umat ini.
Bendera Islam pun berkibar di
puncak tertinggi.
Tak banyak yang ingin
kusampaikanYa Rasul,
hanya ingin menceritakan
keadaan kami.

Ya..! Kami.
Umatmu yang kau sebut
sebagaimana dalam hadits
dengan
“Saudara-saudaramu yang kau
rindukan”.
Bukankah engkau yang
mengatakan kepada
para sahabat-sahabat muliamu:
“Aku ingin (sekali) bertemu
dengan saudara-saudara ku”
Lalu para sahabat pun bertanya:
“Bukankah kami semua
saudaramu ya Rasul?”
Engkau menjawab:
“Bukan! Kalian adalah sahabat-
sahabatku.
Sedangkan saudaraku adalah
mereka yang hidup setelah(ku).”
(Musnad Imam Ahmad)

Wahai Rasul!
Saudara-saudaramu yang kau
rindukan ini sedang sakit parah.
Dunia telah meredupkan cahaya
iman kami.
Membutakan mata hati kami.
Menggiring kami memasuki
lobang-lobang kehinaan.

Wahai Rasul!
Para wanita golongan kami yang
dulu mati-matian
kau perjuangkan kemuliaan dan
kehormatannya kini malah
setengah mati
menjatuhkan diri mereka di
lembah kerendahan.
Para anak-anak yang kau
katakan amanah
yang tak boleh disia-siakan
sekarang ditelantarkan
dan disuap dengan butiran-
butiran nasi basi
keterbelakangan.
Para orang tua yang kau larang
disakiti,
kini sangat mudahnya dizhalimi.
Keadilan yang begitu kau agung-
agungkan pun,
kini seperti sebuah khayalan.

Wahai Rasul!
Benarkah kami yang kau
rindukan?
Sedangkan shalatmu dan shalat
kami seperti langit dan bumi.
Kami lalai dalam zikir kami
bagaimana mungkin kami
berdzikir
dalam kelalaian kami.
Bacaan Qur’an kami juga hanya
sampai di makhraj hamzah,
terhenti disitu jarang menembus
kulit hati kami.
Mata kami sering basah,
menangis, tapi bukan karena
rindu kami
kepadamu Ya Rasul..
Kami hanya menangis saat
kehilangan dunia kami.
Kami pun bersedih, tapi bukan
karena ibadah-ibadah
yang luput terlewati.

Wahai Rasul!
Alangkah cintanya engkau
kepada kami,
umatmu yang kini sering
melupakanmu.
Padahal nanti saat manusia-
manusia saling menyalahkan,
saat semua orang dan bahkan
para Nabi pun
mementingkan diri sendiri agar
selamat dari azab Allah
sambil mengatakan “Nafsi-
nafsi”(diriku-diriku)
Lisanmu yang mulia itu malah
mengulang-ulang kalimat:
“Ummati-Ummati” (Umatku-
umatku).
Hati siapa yang tak akan luluh
bila mengetahui cintamu kepada
umatmu?
Air mata siapa yang tak menetes
jika mengingat perjuanganmu?
Kepala yang mana yang tidak
tertunduk malu mengenang
sejarah hidupmu?
Kecuali hati yang telah telah
tertutupi dosa
mata yang silau dengan dunia,
dan kepala orang-orang pongah
yang tak tahu diri.

Wahai Rasul!
Masih ingat dalam ingatanku
engkau pernah bersumpah:
“Demi (tuhan) yang jiwaku
beradadalam kekuasaan-Nya.
Tidak sempurna iman seseorang
diantara kamu
sampai aku dicintainya melebihi
cintanya kepada anaknya,
orang tuanya, dan manusia
seluruhnya.”

Maafkan kami Wahai Rasul! Maafkan kami wahai kekasih ALLAH...
SEMOGA  KAMI BISA LEBIH BAIK DALAM MENCINTAIMU.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar