Kamis, 02 Februari 2012

PAULUS menurut TEOLOGI KRISTEN

(Studi analisa Al Kitab versi LAI Th. 2001)
Oleh: Imam Taufik Alkhatab

I. Pendahuluan
Prof. Dr. H.M. Rasjidi menyetujui pembagian agama kedalam dua katagori besar; revealed religions (agama wahyu) dan natural religions (agama alami/budaya). Agama-agama yang masuk ke dalam point pertama adalah; Yahudi, Nashrani, dan Islam sementara selain itu seperti; Hindu, Budha, Shinto, Kong Hucu dan lain-lain masuk kepada point kedua. Agama wahyu adalah agama yang terbentuk berdasarkan turunnya wahyu dari Allah Ta’âla memalui para Rasul-Nya. Masuknya Yahudi dan Nashrani sebagai agama samawi merupakan analisa Pak Rasjidi setelah melihat kedudukan asal kedua agama ini, ya’ni sama-sama memiliki kitab suci berisikah wahyu Tuhan. Pandangan tersebut memang agak berbeda dengan apa yang disebutkan Endang Saifuddin Anshari misalnya. Ia berpendapat bahwa hanya Islamlah satu-satunya agama samawi, sementara yahudi dan Nashrani masuk pada kategori agama ardhi (natural religions, agama budaya, agama filsafat, dll) disebabkan penyelewengan mereka terhadap agama yang dibawa oleh nabi Musa dan Isa alaihimassalâm.

Terlepas dari analisa itu, sebagaimana yang dikabarkan dalam al Qur’an bahwa memang Yahudi dan Nashrani telah melakukan penyimpangan dari kemurnian risalah yang dida’wahkan oleh para Nabi dan Rasul kepada mereka. Salah satunya digambarkan dalam firman Allah berikut ini;
Artinya; “Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, Padahal ia bukan dari Al kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, Padahal ia bukan dari sisi Allah. mereka berkata Dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui. (QS. Ali ‘Imrân: 78)

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa berdasarkan riwayat Al Bukhari Ibnu Abbas radhiyallâhu‘anhuma menjelaskan ma’na “yalûna alsinatahum bi alkitâb” dengan tafsiran; yuharrifûnahu (mereka merubahnya). Sejalan dengan itu, keterangan dari Wahab bin Munabbih rahimahullâh juga memberikan kelengkapan dimana ia berpendapat, bahwa sesungguhnya Taurat dan Injil sebagaimana keduanya diturunkan oleh Allah, tidaklah mengalami perbahan (secara hakikat) meskipun satu huruf. Akan tetapi mereka (Yahudi dan Nasrani) menyesatkan isi kitab tersebut dengan perubahan serta pernta’wilan disertai dengan penulisan Al Kitab dengan tangan-tangan mereka sendiri. Berangkat dari relitas inilah penulis melihat umat Yahudi dan Nashrani pada hari ini telah kehilangan pedoman hidup mereka yang asli.
Dalam tubuh agama samawi mereka mengenal apa yang disebut dengan Rasul (utusan) penyampai wahyu. Dalam teologi Yahudi mereka mengenal Nabi Musa, Nabi Daud, Nabi Sulaiman dan lain-lain sebagai utusan bagi mereka. Demikian halnya dengan agama Nashrani, mereka mengenal salah seorang tokoh sentral pengemban, penyebar misi, serta pelengkap ajaran Yesus yaitu Rasul Paulus (Saul/Saulus/Sant). Ketokohan Paulus menjadi sangat menarik dalam perbincangan para pakar sejarah dan teologi karena banyak kesimpulan dan penelitian justeru menyudutkan Paulus sebagai manusia yang tak seharusnya memimpin ajaran Yesus. Ahmad Syalaby misalnya, menyebut Paulus sebagai seseorang penjahat yang telah melakukan tahrîf (perbahan) terhadap misi dan ajaran Nabi Isa kepada bangsa Israel. Dialah yang merubah tauhid menjadi trinitas dan menciptakan kisah penebusan dosa. Dia membatalkan berkhitan dan larangan memakan daging Babi dan lain-lain. Ahmad Syalabi bahkan terang-terang menyebutkan bahwa “Dengan satu perkataan saja, Paulus telah merubah agama Masehi ini.”

Perkataan Ahmad Syalaby sebagai seorang sejarawan menurut penulis cukup menarik. Oleh kernanya, penulis mencoba untuk melakukan penelitian terhadap teks-teks Al Kitab yang mengisahkan tentang profil seorang Paulus sebagai Rasul yang controversial. Untuk itu, Al Kitab (Bible) sebagai rujukan tertinggi dalam teologi Kristen adalah sah untuk dijadikan sumber kajian utama, mengingat banyak data-data sejarah yang sejatinya banyak mengungkapkan siapa sebenarnya Paulus.
Versi Al Kitab yang menjadi rujukan utama penulis adalah Al Kitab terbitan LAI (Lembaga Al Kitab Indonesia) tahun 2001. Pembatasan terhadap satu versi Al Kitab ini penulis anggap penting karena pada faktanya, masing-masing versi Al Kitab tidak mencerminkan keselarasan isi dan data. Sebagai contoh, dalam Bible versi TL-LAI tahun 1960 (I Raja-raja 4:26) menyebutkan:
“Dan lagi adalah pada radja Solaiman empatpuluh ribu kandang akan segala rata baginda dan duabelas ribu orang berkuda.”
Sementara edisi TB-LAI 1979 pada kitab dan pasal yang sama menyebutkan: “
Lagipula Salomo mempunyai kuda empat ribu kandung untuk kereta-keretanya dan dua belas ribu orang berkuda.”

Dari contoh ini perubahan angka 40.000 menjadi 4000 adalah sebuah kerancuan. Contoh lainnya, tentang usia pengangkatan Ahazia sebagai raja di Yerusalem. Versi bahasa Inggris Holy Bible New King James Version, II Chronicles 22:2 menyebutkan Ahazia diangkat sejak 42 tahun ;
“Forty an two years old was Ahaziah when he./;0began to reign, and he reigned one year in Jerusalem.”
Akan tetapi versi bahasa sunda menyebutkan Ahazia diangkat sebagai raja pada usia 22 tahun;
“Ahasia mimiti jadi raja dina yuswa dua puluh dua taun, ngarajaanana satuan, calikna di Yerusalem” (II Babad 22:2, Al Kitab Sunda, 1991)

Kerancuan fakta dan data itu sesungguhnya tidak hanya terjadi antara satu versi dengan versi lainnya. Bahkan dalam satu versi sekalipun Al Kitab sesungguhnya tetap menunjukkan ketidakkonsistenan dalam menyebutkan fakta dan data. Perlu diketahui bahwa Pahlawan Nasional RI DR. M. Natsir (penggagas ide Mosi Integral) bahkan telah melakukan pembacaannya sejak tahun 1930 an. Dalam sebuah tulisan berjudul “Ruh Sutji” Natsir menjelaskan beberapa ayat Al Kitab yang kontradiktif satu sama lain. Salah satunya adalah tentang penyaliban Isa, apakah Isa yang membawa salibnya ataukah Simon. Injil Yahya menyebutkan Simonlah yang membawakan kayu salib untuk Isa (19:17);
“Sambil memikul salib-Nya ia keluar ke tempat yang bernama tempat tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota.”

Sementara Injil Masrkus menyebutkan Isa sendiri yang membawanya (15:21);
“Pada waktu itu lewat orang yang beranama Simon, orang Kirena, ayah Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota, dan orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus.”
Bahkan dengan tegas Natsir mengatakan; “Kita tidak bisa maafkan apabila orang berani mengatakan bahwa kekeliruan dan kesalahan ini semuanya dibuat dibawah pimpinan tuhan. Sebab itu berarti menghinakan Tuhan, memungkiri kesempurnaan-Nya, mengotori kesutjian-Nya.”
Meski Al Kitab mendapat kritik otentitas dari sejumlah kalangan, sampai saat ini Gereja masih tetap gigih mempertahankannya sebagai wahyu Tuhan. Dengan demikian penelitian yang menggunakan Al Kitab sebagai sumber utama tetap dapat digunakan berdasarkan otoritas tersebut. Bahkan ia akan bertambah menarik dengan munculnya data-data sebagaimana yang disebutkan di atas.
II. Kristen dan Riwayat Paulus

Menurut Huston Smith Agama Kristen pada dasarnya adalah suatu agama sejarah. Artinya landasan utama berdirinya agama ini bukanlah terletak pada asas-asas yang bersifat umum tetapi didasarkan pada kejadian-kejadian nyata, yaitu pada peristiwa-peristiwa yang sesungguhnya terjadi dalam sejarah. Dalam buku panduan (modul) Pendidikan Agama Kristen yang dikeluarkan oleh Universitas Terbuka disebutkan bahwa Kristen sebagai sebuah agama dapat dipahami dengan meperkenalkan satu kata inti yaitu Kristus. Dengan menghilangkan nama Kristus, maka agama Kristen itu tidak akan mempunyai arti apa-apa. Kata Kristus berasal dari kata bahasa Yunani Christus; “yang diurapi”. Dalam bahasa Ibrani yaitu bahasa asli Perjanjian Lama dari Al Kitab, istilah yang diurapi itu disebut mesias. Istilah ini berasal dari kebiasaan Israel Kuno yang tidak memahkotakan raja-raja melainkan mengurapinya.

Istilah Kristus semula adalah sebuah gelar kerajaan (KPR. 17:7), bukan nama diri. Itulah sebabnya kata Kristus harus ditambahkan dengan nama diri; Yesus. Yesus sendiri berarti; Juru selamat. Para penganut agama Kristen mempercayai bahwa Yesus adalah juruselamat dan diatas Dialah agama ini didirikan. Dilain pihak, istilah Christian yang merujuk kepada penganut agama Kristen (umat Kristen) sejatinya adalah nama tak berdasar. Nama tersebut bahkan belum pernah disetujui oleh Yesus melalui sabda-sabdanya. Ia hanya sebuah sebutan orang-orang luar yang menyebut untuk pengikut Yesus sekitar tahun 40 Masehi, padahal murid-murid Yesus sendiri tak menamakan diri mereka Kristen (Christian) bahkan bangsa Arab tetap konsisten menjuluki mereka Nashrani. . Kisah Para Rasul 11:26 menyebutkan ;
“Mereka (Barnabas, Saulus/Paulus, dan lain-lain) tinggal bersama-sama dengan Jema’at itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertamakalinya disebut Kristen.”

Umat Kristiani meyakini bahwa Yesus memiliki para murid disekililingnya yang berjumlah 12 orang; Simon (terkenal dengan Petrus), Andreas (saudara Simon), Yakobus, Yohanes (saudara Yakobus), Filipus, Bartolomeus, Tomas, Matius, Yakobus (anak Alfeus), Tadeus, Simon (orang Zelot) dan Yudas. Kesemuanya menyebarkan ajaran Kristen secara terbatas sebagaimana yang mereka dapatkan dari Yesus sesudah kematiannya. Adapula yang menambahkan bahwa yang termasuk murid dekat Yesus adalah Barnabas. Bahkan Al Kitab menyebutkan perselisihan Barnabas dan Paulus yang berujung kepada pendirian masing-masing. Barnabas tetap mempertahankan apa yang pernah diterimanya melalui Yesus secara langsung, sementara Paulus melakukan banyak perubahan-perubahan. Maka dalam perkembangannya ada yang disebut Rasul 70 atau 120.

Nama Paulus disebut-sebut juga sebagai bagian dari rasul dalam teologi Kristen. Akan tetapi, proses penobatan menjadi Rasul dalam diri Paulus tidak melalui pengkhotbahan sebagaimana terjadi pada yang lain, melainkan melalui pengkuannya yang disebutkan dalam Al Kitab. Al Kitab sendiri sebenarnya tidak memberikan informasi yang akurat tentang asal usul Paulus. Kisah Para Rasul 22:3 misalanya menyebutkan bahwa ketika Paulus berbicara dengan orang Yahudi ia mengaku diri sebagai keturunan Yahudi, lahir di Tarsus di tanah Kilikia. Sementara itu, pada pasal 23:6 Paulus justeru mengaku sebagai orang Farisi. Sementara pada pasal 23:26-29 Paulus justeru dikenal oleh Klaudius Lisias sebagai orang Romawi. Perubahan identitas ini diyakini banyak peneliti disebabkan Paulus hendak menghindari hukuman Mahkamah Agama orang-orang Yahudi dimana diantara mereka terdapat orang-orang Farisi dan Romawi.

Namun demikian umat Kristiani sendiri lebih memilih Paulus yang nama aslinya adalah Saul (KRR, 13:9) berasal dari Bandar Tarsus (KRR, 22:3) sebagaimana versi pertama. Daerah Tarsus merupakan sebuah Bandar dagang bangsa Grik yang terpandang makmur dewasa itu dalam wilayah Kilikia di Asia Kecil. Pedagang-pedagang Yahudi yang menetap sekian lamanya di sana telah dipengaruhi dan telah menyerap kebudayaan Grik dan bahasa Grik. Maka banyak yang menyebut istilah Hellenistic Jews merujuk kepada orang-orang Yahudi yang telah menyerap kebudayaan Helenia. Kehidupan Paulus yang terdirik dalam lingkungan Yahudi fanatik inilah yang menyebabkannya bahkan menjadi anti terhadap pengikut-pengikut Yesus beserta murid-muridnya. Disamping arahan orangtuanya untuk belajar para Rabi-rabi Yahudi di Yerusalem termasuk kepada Rabbi Gamaliel (Kisah Para Rasul, 22:4, Kisah Para Rasul, 26:15),
“Aku adalah orang Yahudi, lahir di Tartus di tanah Kilikia, tetapi dibesarkan di kota ini, dididik dengan teliliti dibawah pimpinan Gamaliel dan hokum nenek moyang kita, sehingga aku menjadi orang yang giat berkerja bagi Allah sama seperti kamu semua pada waktu ini.” (Kisah Para Rasul, 22:4)

Ia tumbuh sebagai seseorang yang membenci ajaran Isa bahkan terhadap para pengikutnya (Galatia, 1:12-14; Kisah Para Rasul, 26:9-11, Kisah Para Rasul, 22, 4-5). Al Kitab menyebutkan ia ditunjuk untuk mengepalai pembunuhan Stepanus, seorang pengikut Yesus yang setia hingga ia mati dalam rajaman batu (Kisah Para Rasul, 7:54-60). Ia juga mengepalai pengejaran kepada para pengikut Yesus di Yerussalem. (Kisah Para Rasul, 8:1-3, Kisah Para Rasul, 9:1-2).
“1)Sementara itu berkobar-kobar hati Saulus (Paulus) untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, 2) dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki maupun perempuan yang mengikuti jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.” (Kisah Para Rasul, 9:1-2)
Paulus juga menempuh belajar ala pendidikan Filsafat Yunani dan Romawi. Bahkan secara faham, ia menganut aliran Farisi (farusyin). Aliran Farisi sendiri dikenal sebagai aliran yang sangat anti kepada ajaran Isa. Meski demikian pengkut Kristiani percaya bahwa Paulus (Saulus) telah bernar-benar bertaubat. Pertaubatan itu dikisahkan dalam Kisah Para Rasul dimana Paulus mendapatkan teguran langsung dari Yesus dan dengan perantara Ananias ia dibaptis.

“Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. 4) Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suata yang berkata kepadanya; “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiyaya Aku ?, 5) Jawab Saulus: “Siapakah Engkau, Tuhan ?” Kata-Nya: “Akulah Yesus yang kauaniaya itu. 6) Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, disana akan dikatakan kepadamu apa yang akan kau perbuat.” (Kisah Para Rasul 9:1-6)
Mengenai sifat cahaya terang yang tampak oleh Paulus dan bunyi suara yang terdengar olehnya, maka Kisah Para Rasul menyebutkan kisah tersebut secara tak selaras. Pada pasal ke 9 ayat ke 7 disebutkan bahwa para rombongan kafilah yang membersamai Paulus saat mendapatkan teguran dari Yesus ternyata tidak dinampakkan cahaya tetapi hanya mendengar bunyi suara.

“Maka termanggu-manggulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang juga pun.” (Kisah Para Rasul, 9:7)
Tetapi pada bagian lain, menurut apa yang dijelaskan Paulus kepada orang Yahudi bahwa rombongan tersebut justeru diberitakan melihat cahaya dan namun tak mendengar suara.
“Dan mereka yang menyertai aku, memang melihat cahaya itu, tetapi suara Dia yang berkata kepadaku, tidak mereka dengar.” (Kisah Para Rasul, 22:9)

Selanjutnya, Abu Yamin Rohan, pakar Kristolog di Indoneisa menjelaskan bagaimana perjalan Paulus setelah menerima wahyu dari Tuhan ke dalam empat fase secara umum.

Fase pertama, yaitu fase evangelisasi (euaggelistios). Daerah pertama yang dijaikan Paulus sebagai basis adalah Antiochia, sementara Syprus dan Asia Kecil digunakan sebagai daerah kunjunganya. Pada tahun kira-kira 46 M, Paulus bersama Barnabas dan ditemani oleh Markus menuju Syprus, lalu berlabuh di Pafos, kemudian menyebrangi dan mendarat di Perge, sebuah daerah dari Phampias; dari sana menuju kepedalaman, sementara Markus kembali ke Antiochia. Di Sypurs mereka mengunjungi Salamis dan Pafos, sementara di Asia Kecil mereka mengunjungi Perge, Antiochia, ikonium, Lystra dan Derba.

Fase kedua, Perjalanan juga dimulai dari Antiochia. Pada kali ini Barnabas dan Markus tidak menyertai lagi, akant tetapi Paulus disertai oleh Silas dan Timotius. Mereka mengunjungai Asia Kecil seperti Derba, Lystra, Ikonium, Galatia dan Troas; makedonia; Pilipi, Tesalonika dan Brea, sedangkan daerah Yunani Paulus mengunjungi Athena dan Korintus. Pada mulanya Barnabas menyarankan agar Markus dibawa serta, tetapi Paulus menolak Markus. Akhirnya Paulus ke Asia Kecil dimana ia mendapt teman Timotius namanya. Di Agege (Troas), Lukas menggabungkan dirinya juga. Mereka segera menyebrang ked an mendapt di Neopolis lalu berjalan kaki ke Pilipi (Makedonia). Diperjalan ini Paulus dipenjarakan oleh sebab timbulnya reaksi penduduk atas ajarannya. Akan tetapi hanya semalam saja, disertai gempa bumi ia segera dibebaskan. Ia kemudian menuju ke Tesalonika dan terus menuju Brea. Disinipun Paulus hanya sebentar saja, ia segera lari menuju pantai dan sampailah ia ke Athena. Dari Athenalah Peulus mengirim surat kepada Silas dan Timotius yang masih berada di Tesalonika dengan harapan agara dapat segera menggabungkan diri bersamanya. Sebelum Silas dan Timotius tiba Paulus menggunakan waktunya untuk mengajar di masyarakat setempat Sinagoge dan Agera. Disitu Paulus berhasil mengkristenkan Dionysius Areogagus sekalipun I amengalami dikejar-kejar penduduk. Karena Silas dan Timotius tak kunjung menyusul maka Paulus terpaksa pindah ke Korintus dan menetap kurang lebih 18 bulan dan mendapatkan banyak pengikut yang seimbang dengan jemaat Antiochia dan Yerusalem. Dalam masa ini antara tahun 51-52 Masehi ia menulis surat pertama ke Tesalonika I, kemudian setalah Silas (Lukas) dan Timotius tiba dengan berita baru, iapun menulis surat Tesalonika II.

Fase ketiga, sesudah beberapa lama Paulus beristirahat di Antiochia, iapun berangkat menuju Epese. Sebelum ia, Aquila dan Priscila telah berjalan lebih dulu, untuk persiapan-persiapan tertentu. Di daerah ini ia tinggal kurang lebih dua tahun. Setelah terdengar berita tentang perpecahan jemaat Korintus, menyebabkan Paulus berkirim surat kepada mereka dan dibawa oleh Timotius. Tetapi laporan Timotius di belakngnya telah menyebabkan Paulus sendiri yang harus berkunjung sekaligus melakukan penyelesaian. Surat Korintus II ditulis dan dikirimnya setlah ia sendiri kembali ke Epese melalui sahabatnya Titus. Sebenarnya antara Paulus dan Titus terdapap janji untuk bertemu di troas, tetapi beberapa sebab menyebabkan Paulus berangkat dan mendahului janjinya sampai ke Makedonia terus ke Korintus. Surat ke Roma telah ditulis Paulus semasanya di Korintus. Setalah kurang lebih tiga bulan saja Paulus ke Korintus, iapun segera menuju Yerusalem. Malang bagi Paulus, semasa ia berkunjung ke Kanisah, ia ditangkap da dihadapkan ke Sanhendrin. Iapun meringkuk dalam tahanan selama 2 tahun lamanya.

Fase ke empat. Mungkin pada tahun 60 Mesehi, fortius Festus menggantikan gubernur Felik henak menyerahkan Paulus kepada orang Yahudi. Paulus menolak bahkan ia meminta naik banding ke Kaisar. Permintaan Paulus di Kabulkan. Ia diberangkatkan dengan Kapal dan dikawal oleh kompi pengawal dengan perwira Yulius sebagai komandan. Tetapi ia masih merasa terhibur karena berbeapa sahabatnya seperti Lukas, Timotius, Aristarchus turut mengantar. Namun mereka menderita diperjalanan, dimana topan mengamuk hingga kurang lebih 14 hari lamanya mereka baru terdampar di pulau Matla. Jika dihitung maka tiga bulan lamanya mereka baru sampai ke Italia. Sekalipun Paulus di kawal, ditahan dan derita-deria lainnya, tetapi ia cukup terhibur, dimana jemaat Kristen Roma menyambutnya dengan meriah sekali. Ia diizinkan menerima tamu, dan kemudian ia dibebaskan sesudah tahanan selama 2 tahun. Sesudah masa-masa ini, sejarah tidak banyak menceritakan aktifitas Paulus. Selama dalam tahanan Paulus sempat menulis surat-sura untuk temannya Timotius. Isinya tentang suka-duka dalam tahanan, pengembalaan jemaat dan tak lupa mengharapkan kehadiran Timotius untuk datang berkunjung kepadanya. Banyak para ahli menyebutkan bahwa Paulus mati dipenggal kepalanya di via Ostiense kurang lebih tahun 67 Masehi, kemudian jemaat menyaksikan kuburannya di Gereja Besar Santo Paulus di Roma.
III. Membedah Ajaran Paulus dalam Al Kitab

Kehadiran Paulus dengan model Kristen yang dibawanya memang sebuah kontroversi. Adalah pengakuannya dalam menerima wahyu Tuhan sebagaimana disebut dimuka sebagai suatu kontroversi yang paling menonjol. Betapa tidak, apa yang dibawa oleh Paulus ternyata dipandang sebagai ajaran yang sama sekali tidak meneguhkan ajaran Yesus sebagaimana diterima secara langsung oleh murid-murid-Nya. Dalam Naskah Laut Mati, perihal kejelekan sifa Paulus dapat dibaca dalam Hababuk Pesher sebagaimana dikutip oleh Robert Eisenman dalam bukunya James the Brother of Jesus (hal. 524); “The Wicked Priest…become proud and he deserted god and betrayed the Laws because of Riches” (Pendeta yang keji… menjadi sombong dan melupakan tuhan Allah dan mengkhianati hokum (Taurat) demi untuk berfoya-foya)

Sebelum memasuki satu persatu pokok-pokok ajaran Paulus, penulis sebutkan sebuah analisa dari Prof. Sharl Jenniber yang melihat latar belakang kehidupan Paulus sebagai landasan membaca tokoh ini. Prof Sharl menyebutkan bahwa; “Tarsus, tempat lahir Saul yang Yahudi itu, adalah kota yang sangat sibuk, muara perdagangan antara Asia Kecil dan Syam (syiria dan sekitarnya0. ia m erupakan persimpangna jalan perdagangan penting yang dalam waktu bersamaan bisa berkumpul pedagang-pedagang Yunani, Italia, Siprus, Venisia (Lebanon) dan Mesir. Tentunya mereka juga membawa kebudayaan (pemikiran), kepercayaan dan agama masing-masing. Selain itu Tartus juga memiliki sebuah perguruan filsafat. Kata Straon, ahli sejarah dan ahli geografi, perguruan filsafat Tarsus itu menyebabkan kota itu dikenal oleh orang Yunani dan Romawi sehubungan studi filsafat. Para pengajar filsafat di Tartus mengikuti mahdzhab Stoisisme (Filsafat Zeno). Jadi dapat kita ketahui identitas pemikiran Paulus, baik bidang kefilsafatannya maupun kepiawaiannya menggunakan gaya orang Yunani. Malah pada akhirnya Paulus menjadi salah seorang guru dibidang itu.” “Setelah mempelajari dengan akurat, ternyata dalam 14 surat Paulus tercium aroma pemikiran-pemikiran antara ajaran Yahudi, ajaran kepercayaan Yunani, ajaran Injil dan mitologi agama-agama timur.”
Analisa ini akan kita baca melalui pandangan, ajaran serta pernyataan-pernyataan Paulus semasa hidupnya sebagaimana tertuang banyak dalam Al Kitab. Berikut ini akan penulis sebutkan beberapa diantaranya yang dianggap cukup mewakili, diambil dari sejumlah surat-surat dan yang ditulis Paulus, maupun catatan para pengikutnya.

A. Menghalalkan akhohol dan minuman keras

Dalam I Timotius Paulus menganjurkan untuk menambahkan sedikit anggur kedalam minuman sebagai obat kelemahan.

“Janganlah lagi minum air saja, melainkan tambahkanlah anggur sedikit, berhubung pencernaanmu terganggu dan tubuhmu sering lemah.” (I Timotius 5:23)
Hal ini sangat bertentangan dengan ajaran Isa (Yesus) yang justeru melarang meminum minuman keras secara umum.

“Tuhan berfirman kepada Harun: “Janganlah engkau minum anggur atau minuman keras, engkau serta anak-anakmu, bila kamu masuk kedalam kemah pertemuan supaya jangan kamu mati. Itulah ketetapan untuk selama-lamanya bagi kamu turun-temurun.” (Imamat 10:8-9)

“Oleh sebab itu, peliharalah dirimu, jangan minum anggur atau minuman yang memabukkan dan jangan makan sesuatu yang haram.” (Hakim-Hakim 13:4)


B. Menghina hukum Turat
Paulus menyudutkan hukum Taurat sebagai hukum pembawa kemurkaan. Hal itu sama halnya dengan menganggap Tuhan telah menurunkan hukum yang tak sesuai atau sama halnya dengan menghina Rasul yang membawa Taurat itu sendiri (Nabi Musa ‘alaihissalâm).
“Karena hukum Taurat membangkitkan murka, , tetapi dimana tidak ada hukum Taurat, disitu tidak ada juga pelanggaran.” (Roma 4:15)

“Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak, dan dimana dosa menjadi bertambah banyak, disana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah.” (Roma 5:20)

C. Beramal dengan hukum Taurat sia-sia. Yang terpenting Iman saja pada Yesus

Bagi Paulus, Taurat memang tak bernilai apa-apa. Bahkan ia beranggapan bahwa beramal dengan hukum Taurat tidak akan mendapatkan pembenaran dari Tuhan. Yang akan mendapatkan pembenaran hanyalah iman saja pada Yesus.

“Kamu tahu, bahhwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena Iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus supaya kami dibenarkan oleh karena Iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: “tidak ada seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat.” (2 Galatia: 16)

Pendapat Paulus ini memang ganjil. Oleh karena itu Yaqobus (murid Yesus) justeru mencela pernyataan Paulus ini. Ia sendiri kemudian menasihati manusia akan hal itu sebagaimana tertera dalam suratnya
“20) Hami manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong ? 21)Bukankah Abraham, bapa kita dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, diatas mezbah ? 22) Kamu lihat, bahwa iman berkerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” (Yakobus 2: 20-22)
Sebelumnya, Yakobus memang telah mendengar bahwa Paulus mengajak manusia untuk meninggalkan hukum Taurat. Oleh sebab itu, ketika Paulus datang ke Yerusalem orang-orang disana menyambutnya dan langsung mengecek berita tersebut.

“20) Saudara, lihatlah, beribu-ribu orang Yahudi telah menjadi percaya dan mereka semua rajin memelihara hukum Taurat. 21) tetapi mereka mendengar tentang engkau, bahwa engkau mengajar semua orang Yahudi yang tinggal diantara bangsa-bangsa lain untuk melepaskan hukum Musa, sebab engkau mengatakan, supaya mereka jangan menyunatkan anak-anaknya dan jangan hidup menurut adapt-istiadat kita.” (Kisah Para Rasul 21:20-21)

D. Khitan bukan hukum Allah

Paulus beranggapan bahwa bersunat maupun tak bersunat bukan hal penting. padahal hukum tersebut telah diamalkan oleh orang-orang Yahudi sejak zaman nabi Musa dengan diturunkannya Taurat, sementara tidak ada penghapusan dari Yesus.

“ 9) Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki diantara kamu harus disunat, 10) Haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu.” (Kejadian 17:9-10)

“17) Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. 18) Karena Aku berkata kepadamu: sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditidakan dari hukum Taurat sebelum semuanya terjadi.” (Matius 5:17-18)
“Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi percaya, datang dan berkata: “Orang-orang bukan Yahudi wajib disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa.” (Kisah Para Rasul 15:5)

Dalam ayat ini Nampak sekali ketegasan Yesus tentang Khitan dan peneguhan atas isi Taurat serta ketegasan orang Farisi untuk membela hukum Taurat tentang sunat. Namun Paulus justeru berbeda. Ketika hukum sunat dipandang susah untuk diterima pada umat diluar Yahudi (oarng Romawi), padahal mereka berkewajiban untuk menyampaikannya, maka Paulus berselisih dengan Barnabas dan berfatwa tentang bolehnya tidak bersunat.

“18) Dan kalau seseorang dipanggil dalam keadaan bersunat, janganlah ia berusaha meniadakan tanda-tanda sunat itu. Dan kalau seseorang dipanggil dalam keadaan tidak bersunat, janganlah ia mau bersunat. 19) Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting adalah mentaati hukum-hukum Allah.” (I Korintus 7:18-19)
E. Lebih baik dan utama tidak menikah
Paulus lebih menganggap bahwa tidak menikah itu lebih baik dari menikah, meski menikah tetap dibolehkan.
“Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin.” (I Korintus 7:1)

“ Tetapi , kalau engkau kawin, engkau tidak berdosa. Dan kalau seorang gadis kawin, ia tidak berbuat dosa. Tapi orang-orang yang demikian akan ditimpa kesusahan badani dan aku mau menghindarkan kamu dari kesusahan itu.” (I Korintus 7:28)

F. Merendahkan peran Wanita

Secara berlebihan Paulus tidak memperkenankan wanita untuk melakukan pengajaran dan juga tidak diizinkan untuk memerintah (menyuruh) laki-laki untuk berbuat sesuatu.
“12) Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri. 13) Karena Adam yang pertama dijadikan, kemudian barulah Hawa. 14) Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh kedalam dosa.” (I Timotius, 2:12-14)

G. Konsep ketuhanan anak (son of God)

Paulus dengan gegabah melakukan distorsi sejarah tentang konsep ketuhanan yang tidak dikenal oleh para murid-murid Yesus sebelumnya. Ini sebagai bukti mitologi Yunani dan paganisme kuno yang melekat pada teologi Paulus. Paulus beranggapan bahwa Allah yang bertahta di Syurga mempunyai Anak yang sudah ada sebelum segala sesuatu diciptakan dan segala sesuatu diciptakan melalui Dia.
“Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang olehnya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.” (I Korintus 8:6)
“Namun Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Galatia 2:20-21)

H. Inkarnasi

Paulus memfinah Yesus sebagai inkarnasi Tuhan di bumi memalui benih Daud.
Tentang anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, 4) dan menurut roh kekudusan dinyatkaan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa I adalah anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita. (I Roma 2:3-4)
“5) Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. 6) Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 7) melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia.” (Filipi, 2:5-7)

I. Dosa waris

Bagi Paulus, Tuhan telah berkehendak untuk menciptakan manusia tinggal di Syurga. Akan tetapi akibat dosa Adam dan Hawa maka ia turun kedunia. Dosa inilah yang menurut Paulus diwariskan kepada anak cucunya hingga saat ini.
“21) Sebab sama seperti maut datang Karena satu orang manusia, demikiran juta kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. 22) Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.” (I Korintus 15:21-22)
“Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.” (Roma 5:12)

J. Penyaliban Yesus dan penebusan dosa

Bagi Paulus, Yesus telah menyerahkan dirinya berkorban sampai mati ditiang salib untuk menebus dosa warisan Adam. Suapa dapat memperolah hidup kekal, maka setiap orang harus beriman kepada penyaliban dan penebusan dosa ini.
“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5:8)
“3) Kasih karunia menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus, 4) Yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita. (Galatia 1:3-4)

K. Kenaikan Yesus ke langit setalah matinya

Setelah bangkit dari kematian, Yesus naik ke langit dan bersemayam di sebelah kanan Tuhan Bapa;
“19) Dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, 20) Yang dikerjakan-Nya didalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga.” (Efesus 1:19-20)
“Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk disebelah kanan Allah.” (Kolose 3:1)

L. Ketuhanan Yesus

Bagi Paulus, Yesus adalah 100 persen Tuhan dan 100 persen manusia.
“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” (Roma 10:9)
“Mereka aadalah keturunan bapa-bapa leluhur yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang dia di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya.” (Roma 9:5)

“Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.” (I Korintus 8:6)

“19) Paulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik. 20) Ketika itu juga ia memberitakan Yesus ke rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah anak Allah.” (Kisah Para Rasul 9:19-20)

Dari teologi inilah kemudian nanti berkembang menjadi Trinitas.

J. Makanan yang Haram

Berdasarkan keterangan para nabi dan tetap diteruskan oleh Musan dan Isa (Yesus), maka tidak semua makanan boleh dimakan. Babi misalnya, ia jelas-jelas sesuatu yang haram. Simak ayat berikut ini;
“Tetapi inilah yang tidak boleh kamu makan dari antara yang memamah biak atau dari antara yang berbelah dan bersela kukunya: unta, kelinci hutan dan marmot, karena semuanya itu memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; haram semuanya itu bagimu. 8) Juga babi Hutan, karena memang berkuku belah, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu jangan kamu makan dan jangnlah kamu terkena bangkainya.” (Ulangan 14:7-8)

“Mereka yang mengkuduskan dan mentahirkan dirinya untuk taman-taman dewa, dengan mengikuti seseorang yang ada di tengah-tengahnya, yang memakan daging babi dan binatang-binatang jijik serta tikus, mereka semuanya akan lenyap sekaligus, demikitanlah firman Tuhan.” (Yesaya 66:17)
Akan tatepi, hukum itu semuanya ditiadakan oleh Paulus. Ia justeru menganggap semuanya halal dan boleh dimakan. Simak pernyataan paulus berikut;

“Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi akau tidak membiarkan diriku diperhamba oleh sesuatu apapun.”
(I Korintus 5:12)

“Kamu boleh memakan sesuatu yang dijual dipasar daging, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani.” (I Korintus 10:25)

“4) Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatu pun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur, 5) Sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa.” (I Timotius 4:4)
Misi yang dibawa oleh Paulus memang tak sejalan dengan misi yang dibawa oleh nabi Isa (Yesus). Bagan berikut ini akan lebih memudahkan untuk membacanya;

Misi Yesus Misi Paulus

1. Rasul Bani Israel (QS. Ali Imran, 49), (Injil Mathius 2:6, 19:28, Lukas 22:30)

2. Mengajarkan syahadatain bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Isa (Yesus) adalah Rasul utusan Allah (Injil Yohanes 13:3)

3. Membenarkan dan menggenapi hukum Taurat (QS. Ali Imran, 48), (Injil Matius 5:17-18)
- Kewajiban Khitan (Kejadian 17:10-14, Lukas 2:21)
- Haram minum Al Kohol / minuman keras (Imamat 10:8-10, Hakim 13:4)
- Haram makan daging babi (Imamat 11;7, Ulangan 14:8)
- Haram makan darah/didih (Imamat 7:27, 17:12-13)

4. Menerima firman Allah dan mengajarkan Injil Allah (Injil Markus 1;14, Lukas 4:43, Yohanes 12:49-50, 14:24, 17:8, 17:14)

5. Menubuwatkan datangnya nabi Muhammad (QS. Al A’raf 157), (Injil Yohanes 14:15-17, 25-26,

16:7-15, Mathius 21:42-43, 23:39) 1. Rasul segala bangsa (Roma 11:13, Galatia 2:7, Efesus 3:8, Roma

1:5, II Korintus 11:5, II timotius 2:8)

2. Mengajarkan ketuhanan Yesus
- Yesus adalah anak Allah (Kisah Para Rasul 9:20)
- Yesus adalah Tuhan (Kisah Para Rasul 2:36, Roma 9:5, 10:9, I Korintus 6:14, 8:6)

3. Membatalkan hukum Taurat (Roma 3:20, 4:15, 5:20, Galatia 2:16, 3:10-11)
- Membatalkan khitan (Galatia 5:2, 6;15, Kolose 2:11)
- Menyuruh minum alcohol/minuman keras (I Timotius 5:23)
- Semua daging halal dimakan (Korintus 6:12, 8:8, 10:25, I Timotius 4:4, Roma 14:17)

Penulis menganalisa, bahwa apa yang dilakukan oleh Paulus ini, selain sesuai dengan apa yang disebutkan oleh Prof. Sharl Jenniber, maka terkait pula dengan moral dan sifat-sifat negatef yang dimilikinya dan disebutkan oleh Al Kitab seperti;

1. Bersifat bunglon

“20) Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup dibawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup dibawah hukum Taurat. 21) bagi orang-orang yang tidak hidup dibawah hukum Taurat, aku menjadi seperti orang yang tidak hidup dibawah hukum Taurat…” (I Korintus 9:20-21)


2. Punya kelainan Spilt personality. Ungkapan Paulus sendiri tentang dirinya akan membaut orang ragu siapa sebenarnya dia.

“15) Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. 16)Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui bahwa hukum Taurat itu baik. 17) kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada didalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. 19) Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. 20) jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku…. 24) Aku manusia celaka
 ! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini ?.” (Roma 7 15-24)

3. Merampok kepada jamaah. Paulus tega-teganya merampok jemaat-jemaat yang lewat hanya supaya ia dapat hidup mandiri dan tidak menyusahkan pengikutnya. Dan yang lebih aneh lagi, hal itu akan tetap ia lakuan sebagai pekerjaannya.

“8) Jemaat-jemaat lain telah kurampok dengan menerima tunjangan dari mereka, supaya aku dapat melayani kamu ! 9) dan ketika aku dalam kekurangan di tengah-tengah kamu, aku tidak menyusahkan seorangpun, sebab apa yang kurang padaku, dicukupkan oleh saudara-saudara dari Makedonia. Dalam segala hal aku menjaga diriku, supaya jangan menjadi beban bagi kamu, dan aku akan tetap berbuat demikian.” ( II Korintus 11:8-9)
4. Berdusta atas nama kebenaran Tuhan. Paulus mengakui telah banyak melakukan kedustaan atas nama Allah demi memuliakan-Nya. Bernarkan prilaku yang demikian ini ? ini hanyalah akal-akalan dan ilusi Paulus saja. Tak satupun perintah dari Yesus yang membolehkan berdusta untuk memulikannya.

“ 5) Tetapi jika ketidakbenaran kita menunjukkan kebenaran Allah, apakah yang akan kita katakana ?. tidak adilkah Allah –aku berkata sebagai manusia – jika Ia menampakkan murka-Nya ? 6) sekali-kali tidak ! Andaikan demikian, bagaimanakah Allah dapat menghakimi dunia ? 7) Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi sebagai orang berdosa ?.” (Roma 3: 5-7)

“Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersuka cita. Dan aku akan tetap bersuka cita.” (Filipi 1;18)
5. Melakukan tindakan-tindakan menganiaya. Latar belakang kehidupan Paulus memang tidak beres. Ia adalah perusak berat.
“Tentang kegiatan aku penganiaya Jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.” (Filipi 3:6)

“Orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus serta meratapinya dengan sangat. 3) Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan kedalam penjara.” (Kisah Para Rasul 8:2-3)
VI. Penutup

Bagi Paulus, agama Kristen harus membebaskan diri dari hubungan dengan agama Yahudi, dan membuka diri kepada orang-orang yang bukan Yahudi. Sejak diadakannya Konsili Yerusalem pada 49 Masehi dimana orang-orang diluar Yahudi berkehandak untuk menghapuskan ajaran Yesus tentang khitan, sabath, upacara di temple dan lain-lain kerena menganggap identik dengan Yahudi, Paulus justeru mensetujuinya. Dalam pandagan murid-murid Yuesus sebagai representasi ajaran Kristen Paulus adalah seorang penghianat. Sampai tahun 70 M umat Kristiani yang masih menjaga aturan-aturan Yesus sebagai kelanjutan agama

Yahudi masih tetap mendominasi. Pemimpin komunitas tersebut adalh James, seorang kerabat Yesus. Pada mulanya ia didampingi oleh Petrus dan Yahya. Ia adalah tiang dari agama Kristen versi awal dan penentang Kristen versi Paulus. Pada tahun-tahun itu, keluarga Yesus memegang posisi penting dalam gereja (temple) Kristen di yerusalem. Setelah wafatnya James ia digantikan oleh Simeon anak Cloepas saudara sepusu Yesus.

Dari pemaparan di atas, penulis kemudian menarik kesimpulan-kesimpulan berikut ini;

1. Paulus lahir dari kondisi sosio budaya yang memungkinkan ia menyerap kebudayaan asing (Yunani).
 Kebudayaan Yunani yang masih melestaraikan penyembahan kepada para dewa-dewa serta pemujaan terhadap filosof-filosof masuk kedalam alam pemikiran Paulus dan menjiwainya.

2. Paulus yang memiliki watak ambisius melangkah secara berani untuk menyatakan diri sebagai Rasul
 pilihan Yesus dengan sebuah misi terselubung. Ia ingin ajaran-ajaran para nabi yang secara turun temurun dilestarikan oleh bangsa Yahudi mengalami keterputusan. Oleh karenanya, ia menjadikan kendaraan misi Kristen yang berbasis pada cerita bohong tentang pertobatannya dihadapan Yesus sebagai alat untuk menciptakan agama baru.

3. Sayang sekali, dari jumlah perkataan Yesus dan perkataan Paulus, maka perkataan Paulus sangat dominant di dalam Al Kitab. Al Kitab versi LAI terbitan tahun 2001 menggambarkan pemuatan surat-surat Paulus dari halaman 182-260 (kurang lebih 91 halaman). Ini artinya, lebih banyak perkataan Paulus dari pada perkataan Yesus sendiri,

4. Terdapat perbedaan yang sangat kontras antara apa yang menjadi misi Yesus dan apa yang menjadi misi Paulus. Seharunya, jika Paulus menyatakan diri sebagai penerus risalah, ia dapat diterima oleh murid-murid Yesus yang jelas-jelas mendapatkan secara langsung ilmu darinya. Namun kanyataannya, para murid-murid ini justeru bersitegang dan tidak menyetujui apa yang dibawa oleh Paulus, sementara ia sendiri tak berjumpa dengan Yesus.

5. Jika dilihat dari perkataan-perkataan Paulus, Nampak sekali Paulus ingin diterima di kalangan umat yang labih baik taraf kehidupannya, yaitu orang-orang Romawi dan umat umat lainnya. oleh karenanya ia banyak memberikan kelonggaran-kelonggaran hukum agar mudah diterima oleh orang banyak meski harus bertentangan dengan hukum Taurat dan perkataan Yesus yang diterima oleh murid-muridnya.
Wallâhu A’lam bi as Shawâb

Daftar Pustaka
1. H.M Rasjidi, Empat Kuliah Agama Islam dalam Perguruan tinggi, Jakarta: Bulan Bintang, 2003
2. Endang Saifuddin Anshari, Wawasan Islam, Jakarta: Gema Insani Press, 2004
3. Abi al Fida’ Isma’îl ibn Katsîr, Tafsîr al Qur’ân al Adzhîm, Beirut: Maktabah Al Ashriyyah, 2000
4. Ahmad Syalaby, Agama Masehi; Perbandingan Agama, Terj. Abu Ahmadi, Jakarta Bumi Aksara, 1994
5. Molyadi Samuel AM, Dokumen Pemalsuan Al Kitab, Surabaya; Victory Press, 2002
6. M. Natsir, Islam dan Kristen di Indonesia, Bandung: Peladjar Bulan Sabit, 1969
7. Huston Smith, The Relegions of Man, Terj. Saafroedin Bahar, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2001
8. G.J Bleeker, Pertemuan Agama-agama Dunia, Terj. Barus Siregar, Bandung Penerbit W.Van Hoeve, tt
9. Nazaruis Rumpak, dkk, Buku Materi Pokok; Pendidikan Agama Kristen, Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka, 2004
10. Mâni’ bin Hammad al Jihny, Mausû’ah al Muyassarah fî al Adyân wa al Madzâhib wa al Ahzâb al Ma’ashirah, Riyad: WAMY Nadwah al âlamiyyah li As Sabâb al Islamy, 1997
11. Barnabas, The Gospel of Barnabas, Terj. Ahmad Kahfi, Surabaya: Bina Ilmu Offset, 2006
12. Yasin bin Nasir el Khatib, Baina al Qur’ân wa ahdain, Terj. Fuad Mohd. Fakhruddin, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1989
13. Joesoef sou’yb, Agama-agama Besar di Dunia, Jakarta: Al Husna Zikra, 1996
14. Agus Hakim, Perbandingan Agama; Pandangan Islam mengenai Kepercayaan Majusi, Shaba’iyah, Yahudi, Kristen, Hindu, Buhda dan Sikh, Bandung: Penerbit Diponegoro, 2004
15. Abu Yamin Rohan, Pembicaraan di Sekitar Bible dan Qur’an dalam Segi Riwayat dan Penulisnya, Jakarta: Bulan Bintang, 1984
16. Sanihu Munir, Islam Meluruskan Kristen, Surabaya: Victory Press, 2003
17. Rauf Syalabi, Yâ Ahl al Kitâb Ta’âlau ilâ Kalimatin Sawâ’, Terj. Imam Syafe’i Reza, Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 2001
18. Jehovah’s Witnesses, Should You Believe in the Trinity, Terj. Wahyudi, Jakarta; Ahmad Deedat Publishing, 2005
19. Abu Deedat Shihabudin, Madu dan Racun dalam Al Kitab, Jakarta: Pustaka la Tachzan, 2001
20. Maurice Bucaille, La Bible le Coran et la Science, Terj, H.M. Rasjidi, Jakarta: Bulan Bintang, 2000

Narasumber
http://hudzai.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar